Mengecek kaki-kaki motor untuk mudik, sama pentingnya dengan memastikan kesehatan mesin. Kesehatan roda dan suspensi penting buat jalan jauh. Ini nentuin kenyamanan pulkam alias pulang kampung. Percuma mesin tokcer namun roda enggak mutar.
Menurut Dodiyanto dari Departemen Teknik PT Gajah Tunggal, untuk urusan kaki-kaki pabrikan motor sudah menentukan bobot yang akan diangkut. Makanya mereka biasanya memesan sokbreker, pelek dan ban sesuai spesifikasi motor. “Nah, untuk jalan jauh sebaiknya semua balik ke standar. Tapi kalo udah ganti pelek, ban dan sokbreker, ikuti aturan standarnya dari part yang baru,” saran Dodi sapaan pria asal Palembang itu. Biar nyaman mudik, yuk cek kaki-kaki bersama Dodi.
UMUR BAN
![]() Segitiga penunjuk letak batasan pemakaian ban |
Oh ya, sebaiknya jangan pake ban yang aus. “Karena umur dan pemakaian, karet ban bisa getas. Dindingnya retak-retak. Usia pakainya dilihat dari petunjuk segitiga di samping ban. Segitiga itu nunjukin letak batas toleransi ketebalan ban. Patokannya, ketinggian di coakan atau groove ban lebih tinggi dari yang lain. Jika udah sampai batas itu, ban kudu diganti,” wanti Dodi.
TEKANAN ANGIN BAN
![]() Ukur dengan alat agar pas tekanannya |
Buat acuan, ban depan tekanannya 2 kg/cm2, atau 28 psi. Sedang ban belakang 2,25 kg/cm2 atau 32 psi. “Kg/cm2 itu ukuran Japanese Industries Standart (JIS). Psi singkatan dari pounds per square inch. Ukuran itu ada toleransinya. Plus minus 0,2 buat ukuran kg/cm2 dan 3 buat psi,” jelas pria yang terlibat dalam riset ban balap IRC itu.
Jika tekanan angin ban kurang dari itu, tahu kan akibatnya? Ya…, putaran roda jadi berat. Ujung-ujungnya bahan bakar jadi boros. Selain itu, berakibat pelek mudah rusak membentur jalan keriting. “Apalagi jika beban bertambah akibat lebih banyak bawa muatan saat mudik,” lanjut Wong Kito itu lagi.
Penulis:Aries (Motor Plus) Label: doddy, dodiyanto, gt-tires, ukuran ban



0 komentar:
Posting Komentar