BALANSING PELEK

Rabu, November 19, 2008 / Diposting oleh dodiyanto / komentar (1)

BALANSING PELEK


Jeruji haram kendur agar tak putus

Beres urusan ban, Dodi Yanto nyaranin cek kesiapan pelek. Pastiin pelek gak oleng dan balans. Sebaiknya dibawa ke tukang pelek. Sebab, jika ada masalah ia bisa perbaiki. Tapi, untuk mengecek bisa dilakukan sendiri. Untuk pelek jari-jari (spoke wheel) periksa kekencangan jeruji. Di pelek racing (casting wheel), liat aja oleng atau nggak.


Jika spidol tersentuh, berarti pelek oleng

“Caranya, bikin patokan dari spidol di sokbreker. Putar roda. Jika spidol tadi tersentuh, berarti pelek oleng,” papar pria ngantor di daerah Gajah Mada, Jakarta Pusat itu. Olengnya roda pun bisa disebabkan laher (bearing) roda. Ini bisa dideteksi dengan menggoyang roda ke kiri dan kanan.


SUSPENSI


Jarak insulock ke tabung sokbreker menentukan jarak main per

Jika ban dan pelek udah rapi, lanjut cek kerja suspensi. Buat mudik, sokbreker boleh disetel lebih keras. “Itu jika beban yang diangkut lebih berat dari biasanya. Kalo gak, ya gak usah. Sebab pabrik udah ngitung toleransinya, mulai dari ban, pelek dan suspensi diset buat ngangkut beban berapa,” urai Dodi Yanto.

Biar pasti, cek dulu rebound sokbreker. Ini dipengaruhi pernya. Cek sok depan dengan memasang insulock atau tie-red di batangnya. Tekan sekeras-kerasnya sambil mengunci rem depan. Insulock akan bergerak naik. Jarak antara insulock dengan tabung sok adalah jarak main peredam kejut.

Jika sok depan dirasa terlalu empuk, perkeras dengan nambah ring 1 sampe 2 mm. “Boleh juga tambah minyak sokbreker. Tapi cukup 5 ml aja. Dan sebaiknya, ganti dulu minyak sok dengan yang baru, setelah itu ditambah,” anjur Rainer M. Sitorus, Senior Manajer Service Department PT Kawasaki Motor Indonesia. Buat sokbreker belakang, jika beban tambahan cukup banyak, bisa diperkeras dengan memutar 1 atau 2 tingkat kekerasan per.

Penulis: Aries (Motor Plus)

http://www.otomotifnet.com/otoweb/index.php?templet=ototips/Content/0/0/1/7/1785


Label: , , , ,

Cek Kaki-Kaki Penentu Kenyamanan (1)

Rabu, November 19, 2008 / Diposting oleh dodiyanto / komentar (0)

Mengecek kaki-kaki motor untuk mudik, sama pentingnya dengan memastikan kesehatan mesin. Kesehatan roda dan suspensi penting buat jalan jauh. Ini nentuin kenyamanan pulkam alias pulang kampung. Percuma mesin tokcer namun roda enggak mutar.

Menurut Dodiyanto dari Departemen Teknik PT Gajah Tunggal, untuk urusan kaki-kaki pabrikan motor sudah menentukan bobot yang akan diangkut. Makanya mereka biasanya memesan sokbreker, pelek dan ban sesuai spesifikasi motor. “Nah, untuk jalan jauh sebaiknya semua balik ke standar. Tapi kalo udah ganti pelek, ban dan sokbreker, ikuti aturan standarnya dari part yang baru,” saran Dodi sapaan pria asal Palembang itu. Biar nyaman mudik, yuk cek kaki-kaki bersama Dodi.

UMUR BAN


Segitiga penunjuk letak batasan pemakaian ban

Oh ya, sebaiknya jangan pake ban yang aus. “Karena umur dan pemakaian, karet ban bisa getas. Dindingnya retak-retak. Usia pakainya dilihat dari petunjuk segitiga di samping ban. Segitiga itu nunjukin letak batas toleransi ketebalan ban. Patokannya, ketinggian di coakan atau groove ban lebih tinggi dari yang lain. Jika udah sampai batas itu, ban kudu diganti,” wanti Dodi.

TEKANAN ANGIN BAN


Ukur dengan alat agar pas tekanannya
Menurut Dodi, cek tekanan ban dilakukan minimal seminggu sekali. Sebelum mudik, tekanan angin kudu disesuaikan spek ban. “Mestinya, kalo pake ban standar, sesuaikan tekanan ban dengan petunjuk di lengan ayun. Tapi kalo udah ganti ukuran ban, baiknya ikuti petunjuknya yang tertulis di ban,” urai pria berpipi tebal itu.

Buat acuan, ban depan tekanannya 2 kg/cm2, atau 28 psi. Sedang ban belakang 2,25 kg/cm2 atau 32 psi. “Kg/cm2 itu ukuran Japanese Industries Standart (JIS). Psi singkatan dari pounds per square inch. Ukuran itu ada toleransinya. Plus minus 0,2 buat ukuran kg/cm2 dan 3 buat psi,” jelas pria yang terlibat dalam riset ban balap IRC itu.

Jika tekanan angin ban kurang dari itu, tahu kan akibatnya? Ya…, putaran roda jadi berat. Ujung-ujungnya bahan bakar jadi boros. Selain itu, berakibat pelek mudah rusak membentur jalan keriting. “Apalagi jika beban bertambah akibat lebih banyak bawa muatan saat mudik,” lanjut Wong Kito itu lagi.

Penulis:Aries (Motor Plus)

Label: , , ,